Monday, February 13, 2012


Saat ini dalam dunia maya dan media elektronik televisi dihebohkan Informasi adanya “Sungai di Dasar Laut”. Cenote Angelita, Meksiko terdapat sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan. Benarkah terdapat sungai di bawah laut seperti yang dihebohkan itu ??

Seperti dilansir crystalkiss.com, di kedalaman lebih dari 30 meter tim penyelam menemukan air tawar di tengah kolom air laut. Kondisi itu berubah dan penyelam kembali menemukan air laut mulai melewati kedalaman 60 meter. Beberapa meter dari lokasi itu akan ditemukan sebuah gua. Di bagian bawah dekat gua itu tim penyelam menemukan sebuah sungai lengkap dengan pohon dan dedaunan yang mengapung di kolom air itu. Ternyata lokasi itu bukanlah sungai seperti yang terlihat di daratan. Dalam foto dan video yang beredar ternyata hasil gambat yang dihasilkan sangat menakjubkan. Keindahan alam di dalam foto dan video yang luar biasa tersebut bahkan sampai membuat heboh dan takjub berbagai orang yang melihatnya. Bahkan dalam videonya yang beredar tampak penyelam itu seperti terjun dan berenag di dalam sungai di dasar laut.

Secara keseluruhan, tim penyelam menemukan itu adalah kondisi yang sangat mengejutkan dan menakjubkan untuk dipandang. “Di kedalaman 60 meter saya menemukan kembali air laut. Saya melihat sebuah sungai, pulau, lengkap dengan daun yang berguguran. Tapi sungai yang kami lihat adalah lapisan dari gas hidrogen sulfida,” kata Anatoly.


Suasana di dasar laut itu itu memang mirip sungai lengkap dengan lapisan seperti air yang berwarna agak kecoklatan dengan pemandangan pepohonan di sekelilingnya. Sungguh sangat menakjubkan bila mengamati foto dan videonya. Tapi jangan percaya begitu saja, ternyata warna kecoklatan itu bukanlah berasal dari air tawar. Disebutkan, bagian kecoklatan yang mirip air sungai itu adalah lapisan bagian bawah gas hidrogen sulfida. Gas yang biasanya dihasilkan dari saluran pembuangan kotoran.

Namun tentu saja, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, namun nampak seperti sungai. Biasanya gas itu terkumpul di dasar laut sampai mereka meledak dengan mendadak. Saat gas itu mencapai ke permukaan, kombinasi hidrogen dengan oksigen yang membentuk air membuat sulfur putih padat membentuk lapisan endapan ke dalam lautan,yang membuat hidrogen sulfida menjadi racun alami buat ikan,tapi pengaruh buruk bagi manusia masih belum jelas diketahui.

Mengapa hidrogen sulfida bisa berwujud sungai di dasar laut adalah karena pengaruh berat jenis zat tersebut. hidrogen sulfida memiliki berat jenis yang lebih berat dari pada campuran air laut (natrium sulfida, dll). Hal ini dpt dibayangkan seperti minyak dengan air dimana tingkatan berat jenisnya minyak, air tawar, air laut, dan baru campuran hidrogen sulfida diatas. hidrogen sulfida karena berat jenis yang lebih besar akan cenderung mengumpul didasar lautan. inilah yang tampak seperti alur sungai di atas.








Benarkah Sesuai Dalam Al Qu’ran???

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam

Sumber : http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/01/14/benarkah-terdapat-sungai-di-dasar-laut

Neutrinos Inside Sun


The Sun
Low-Energy Neutrinos Detected Inside Sun.


ScienceDaily (Aug. 29, 2007) — In collaboration with scientists from institutions in the United States and Europe, researchers from Virginia Tech have observed tell-tale signals of neutrinos emitted by thermonuclear fusion reactions that power the sun deep in its interior. 


At approximately 15 million degrees, protons -- the nuclei of hydrogen atoms -- and light elements can fuse to form new nuclei. Several such steps eventually convert the hydrogen in the sun into helium, releasing about 25 million times more energy per gram than TNT, oil, or coal.

"While the neutrinos, which are uncharged elementary particles, only take about eight minutes to reach the earth, the thermal energy produced at the center of the sun only appears as sunlight some 50 thousand years later, after diffusing to the sun's surface," said Bruce Vogelaar professor of physics and leader of Virginia Tech's research team for this project.

"The only way to prove the validity of this model of solar energy generation is to observe these neutrinos which easily travel right through the sun because of their weak interaction with matter," Vogelaar said. "Of special interest are those neutrinos from the decay of 7Be, a critical step in the energy chain of the sun."

It is these neutrinos that the Virginia Tech team and their colleagues have observed directly for the first time in the Borexino detector, located under the Gran Sasso peak in the Apennine mountain range about 100 miles east of Rome. Borexino is a massive detector that contains some 350,000 gallons of organic liquid. Its central region detects neutrinos by seeing the light given off when a neutrino collides with an electron, using some 2,200 photosensors arrayed around the detector.

"The sun emits copious amounts of neutrinos in a wide range of energies," Vogelaar said. "About 10 billion pass through your thumbnail each second."

In the last decade, the much rarer high-energy fraction (one part in ten thousand) has been seen in many experiments, he said. The vast majority of the flux, however, is at much lower energies and had not been directly observed until now. This is because previous detector technologies were unable to discriminate low-energy neutrino signals from formidable backgrounds due to radioactivities normally present in the environment. These include the detector itself and cosmic rays. To avoid the latter, the detector was shielded by placing it deep underground at Gran Sasso. The Borexino Collaboration has developed and employed a new technology that virtually eliminated even trace contaminations, allowing successful measurement of the low-energy solar neutrinos.

The required purities are unprecedented -- several million times lower than levels normally achievable, even with the development of ultra-clean technologies for the semiconductor industry. Another major problem with detecting low-energy neutrinos was the inescapable carbon in the detector's organic liquid, which normally contains a million times more radioactive 14C than tolerable for Borexino. 14C is normally used in radiocarbon dating studies.

Raju Raghavan, professor of physics at Virginia Tech and formerly with Bell Laboratories, made the first breakthrough in methods for reducing radioactive contamination sufficiently as well as discovering how to avoid the radiocarbon. With colleagues from University of Pavia, Italy, he invented new methods of purification and material characterization that explicitly showed for the first time that the solubility of heavy metals, such as radioactive Uranium and Thorium, in non-polar liquids were a million times lower than thought earlier, and thus suitable for Borexino.

Since radiocarbon cannot be chemically purified from normal carbon, Raghavan side-stepped the problem by postulating that petrochemicals derived organic liquids ought to contain much less radiocarbon than normal, due to their residence deep in the earth for geological times. Raghavan and colleagues from the University of Toronto developed a method to show this was the case, and that indeed, the purities reached Borexino levels, which are parts per million billion.

"These results on the laboratory scale showed the potential for low-energy neutrino spectroscopy in Borexino and paved the way to large scale investments for the experiment," Raghavan said. "These new techniques have also impacted commercial technology needed today," For example, he solved the sodium contamination problem in photolithographic chemistry in the fabrication of chips in the microelectronic industry using these techniques.

Showing that these results were valid at the ton, and then kiloton, scales was accomplished over the next 10 years by the Borexino collaboration, including exhaustive field tests using a five-ton prototype detector constructed in Gran Sasso.

The Borexino collaboration consists of more than 100 scientists, post-doctoral fellows, and students from Tech and Princeton University in the U.S., and groups from Italy, France, Germany, Russia, and Poland. In addition to Vogelaar and Raghavan, other members of the Virignia Tech team were Henning Back (currently at NCSU), Christian Grieb, Steven Hardy, Matthew Joyce, Derek Rountree, and. Szymon Manecki, along with several undergraduates. The collaboration is led by Gianpaolo Bellini of the University of Milan, Italy. Essential support for the 20-year effort was provided by the Laboratori Nazionali del Gran Sasso, the INFN (Italy), the National Science Foundation, and other funding agencies in Europe and Russia.

"The scientific and technological achievement of Borexino is a testament to the value of international collaboration and the ingenuity and tenacity of the Borexino collaboration over 20 years to achieve the present success." Vogelaar said. "We expect that information on the 7Be solar neutrinos will clarify the sun's energy cycle in great detail and throw light on the nature of the neutrino itself"